Di Antara Doa Ibu dan Seragam Loreng: Kisah Syifa, WNI Berhijab yang Bertugas di Angkatan Darat Amerika


Syifa, perempuan Indonesia berhijab, bersiap menjalankan tugas sebagai prajurit Angkatan Darat Amerika Serikat

Coretan Politik - Bandara selalu menjadi ruang paling jujur bagi perasaan manusia. Di sanalah perpisahan terasa nyata, tanpa perlu banyak kata. Pada sebuah momen yang terekam kamera ponsel, seorang ibu memeluk anak perempuannya erat-erat. Air mata tak tertahan. Sang anak mengenakan seragam loreng bertuliskan US Army, lengkap dengan hijab hitam yang rapi.

Nama perempuan itu adalah Syifa, seorang warga negara Indonesia (WNI) yang kini bertugas sebagai prajurit Angkatan Darat Amerika Serikat, tepatnya di bawah komponen Garda Nasional AS. Video perpisahan keluarga tersebut, yang diunggah oleh sang ibu melalui media sosial, dengan cepat viral dan memicu beragam reaksi publik.

Bagi sebagian orang, kisah Syifa adalah sumber kebanggaan. Namun bagi sebagian lainnya, cerita ini memunculkan pertanyaan, kekhawatiran, bahkan kritik tajam mulai dari isu nasionalisme, loyalitas negara, hingga status kewarganegaraan.

Menjadi bagian dari militer Amerika Serikat bukanlah perkara mudah, terlebih bagi non-warga negara. Prosesnya panjang, berlapis, dan penuh seleksi ketat.

Syifa harus memenuhi sejumlah persyaratan dasar, salah satunya memiliki Green Card atau status penduduk tetap Amerika Serikat. Selain itu, ia diwajibkan menguasai bahasa Inggris secara aktif, baik lisan maupun tulisan, karena seluruh sistem pelatihan dan operasional militer dilakukan dalam bahasa tersebut.

Tahapan berikutnya adalah ASVAB (Armed Services Vocational Aptitude Battery), sebuah tes kemampuan yang mengukur kecakapan akademik, logika, serta potensi teknis calon prajurit. Hasil tes ini menentukan apakah seseorang layak direkrut dan di bidang apa ia dapat ditempatkan.

Setelah lulus seleksi administrasi dan akademik, Syifa menjalani pelatihan dasar militer fase yang dikenal keras, disiplin, dan menguras fisik serta mental. Tidak ada perlakuan khusus bagi prajurit perempuan atau non-warga negara. Semua tunduk pada standar yang sama.

Salah satu aspek yang paling menarik perhatian publik adalah keputusan Syifa tetap mengenakan hijab saat bertugas. Hal ini dimungkinkan oleh kebijakan religious accommodation di tubuh militer Amerika Serikat.

Dalam beberapa tahun terakhir, militer AS membuka ruang bagi prajurit untuk menjalankan keyakinan agama mereka, selama tidak mengganggu keselamatan, kedisiplinan, dan tugas operasional. Hijab diperbolehkan dengan ketentuan tertentu, seperti bahan yang aman dan tidak menghalangi perlengkapan tempur.

Kebijakan ini menjadi simbol perubahan wajah militer modern lebih inklusif, tanpa sepenuhnya mengorbankan profesionalisme.

Ilutstari gambar perbincangan di sosmed

Seiring viralnya video perpisahan Syifa di Medsos Tiktok , kolom komentar media sosial berubah menjadi arena diskusi terbuka. Dukungan dan kebanggaan mengalir deras, namun di sisi lain muncul pula suara-suara kritis.

Seorang warganet bernama Ames Ames menuliskan kekhawatiran yang cukup serius:

“Banyak yg koment, takut nya jadi mata² stelah berada di Indonesia.”

Komentar tersebut mencerminkan kecemasan lama yang kerap muncul dalam isu militer dan geopolitik. Kekhawatiran tentang spionase dan loyalitas negara masih menjadi refleks sebagian masyarakat.

Sementara itu, Jaja Jawahir membandingkan pilihan Syifa dengan sosok almarhum Presiden BJ Habibie:

“Harusnya tiru almarhum pak Habibie. Beliau banyak ditawari pindah ke negara lain dengan fasilitas mewah tapi menolak. Beliau tetap memilih jadi WNI walaupun di dalam negeri beliau banyak dijahati.”

Pandangan ini menempatkan nasionalisme dalam bingkai pengabdian tunggal kepada tanah air, sebagaimana yang diteladankan Habibie.

Namun, ada pula komentar yang melihat persoalan ini dari sudut pandang lain. Ferry Dolly menulis:

“Disini Amerika dihina, tetapi diterima warga non Amerika sbg anggota angkatan bersenjata. Pemikiran bangsa maju, padahal negara kafir.”

Komentar tersebut menyoroti ironi sikap publik: kritik ideologis terhadap Amerika Serikat, tetapi di saat yang sama mengakui keterbukaan sistemnya.

Adapun Rina S Hidayat mempertanyakan aspek hukum:

“Sepertinya otomatis harus lepas WNI-nya ya.”

Pertanyaan ini menjadi salah satu isu paling banyak diperdebatkan.

Pertanyaan soal kewarganegaraan menjadi isu krusial yang perlu diluruskan.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia, khususnya Pasal 23 huruf d, WNI dapat kehilangan kewarganegaraannya jika masuk dinas tentara asing tanpa izin Presiden Republik Indonesia.

Artinya:

  • Kehilangan kewarganegaraan tidak bersifat otomatis
  • Ada proses hukum dan administratif
  • Faktor izin dari Presiden menjadi penentu utama

Selain itu, Green Card bukan kewarganegaraan Amerika Serikat. Pemegang Green Card masih memegang kewarganegaraan asalnya. Amerika Serikat memang mengizinkan pemegang Green Card untuk bergabung dengan militer, terutama pada level tertentu, tetapi itu tidak serta-merta mengubah status kewarganegaraan.

Dengan demikian, anggapan bahwa Syifa otomatis kehilangan status WNI atau langsung menjadi ancaman keamanan negara tidak sepenuhnya tepat jika tidak didukung fakta hukum.

Perdebatan seputar Syifa sesungguhnya mencerminkan pertanyaan yang lebih besar: apa arti nasionalisme di era globalisasi?

Jika dahulu pengabdian identik dengan tinggal dan bekerja di dalam negeri, kini realitasnya jauh lebih kompleks. Banyak warga Indonesia berkontribusi bagi dunia melalui ilmu, teknologi, kesehatan, hingga pertahanan dengan tetap membawa identitas dan nilai asal.

Habibie mengabdi lewat teknologi dan negara. Syifa mengabdi lewat profesi militer di negara lain. Keduanya lahir dari konteks zaman yang berbeda.

Kisah Syifa mungkin tidak akan pernah sepenuhnya diterima oleh semua pihak. Kritik, kecurigaan, dan perdebatan adalah bagian dari ruang demokrasi. Namun, yang lebih penting adalah memastikan diskusi publik dibangun di atas pemahaman, bukan asumsi semata.

Di tengah dunia yang semakin terbuka, perbedaan pilihan hidup tidak selalu berarti pengkhianatan. Dan keberanian mengambil jalan yang tidak lazim bukan otomatis menjadi ancaman.

Di bandara itu, Syifa melangkah pergi dengan seragam loreng, hijab di kepala, dan doa ibunya di punggungnya. Di belakangnya, publik Indonesia masih berdiskusi tentang batas negara, makna pengabdian, dan wajah baru nasionalisme.

Dan mungkin, dari perdebatan itulah, kedewasaan bersama perlahan tumbuh. (Muhammad Zainul Arifin)

Posting Komentar untuk "Di Antara Doa Ibu dan Seragam Loreng: Kisah Syifa, WNI Berhijab yang Bertugas di Angkatan Darat Amerika"